Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Suasana berbeda tampak di Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, saat ratusan warga binaan menikmati makan siang bersama petugas dan pejabat struktural. Kegiatan yang berlangsung tanpa sekat itu menjadi bukti bahwa menu makanan yang disajikan kepada warga binaan sama dengan yang disantap oleh seluruh petugas lapas.
Program makan siang bersama tersebut dilaksanakan secara bergiliran selama sepekan, dimulai dari Blok A hingga Blok D. Seluruh peserta menikmati hidangan yang sama, mulai dari tempe, ayam, sayuran, sambal, hingga buah-buahan segar sebagai pencuci mulut. Momen ini sekaligus mematahkan anggapan masyarakat yang selama ini meragukan kualitas makanan di dalam lapas.
Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendekatan humanis yang terus diterapkan dalam pembinaan warga binaan. Selain makan bersama, petugas juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berinteraksi dan mendengarkan berbagai masukan maupun keluhan secara langsung.
“Kami ingin mendobrak sekat dan menghilangkan jarak. Melalui momen sederhana seperti makan siang bersama ini, kami menerapkan pendekatan yang lebih humanis. Ini bukan sekadar berbagi hidangan, melainkan langkah nyata untuk membangun kedekatan emosional, komunikasi yang sehat, dan rasa saling menghormati antara petugas dan warga binaan,” ujar Kalapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, Senin (20/07/2026).
Sohibur menegaskan, menu bergizi yang dinikmati saat kegiatan tersebut bukan disiapkan secara khusus. Menurutnya, dapur Lapas Kelas I Surabaya setiap hari menyajikan makanan dengan menu yang bervariasi dan memenuhi kebutuhan gizi warga binaan sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kesehatan mereka.
Ia menambahkan, pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam proses pembinaan di dalam lapas. Kedekatan antara petugas dan warga binaan diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif, sekaligus memberikan dukungan moral agar warga binaan dapat menjalani masa pembinaan dengan lebih baik.
“Pemasyarakatan itu bukan hanya tentang menjalani masa hukuman atau pengawasan yang kaku, tetapi bagaimana kita memanusiakan manusia dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang lebih baik di luar sana. Kami berharap kedekatan ini bisa terus memotivasi mereka untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkas Sohibur Rachman. (rif)
















