GELORAJATIM.COM – Tanaman pisang merupakan suatu komoditas yang sering dijumpai di beberapa kota atau kabupaten. Tanaman pisang ini tumbuh subur di semua jenis tanah di Indonesia. Termasuk di Kabupaten Mojokerto. Semua bagian tanaman pisang mulai dari daun, batang, buah hingga kulit pisangnya juga dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai jual ekonomis.
Daerah Mojokerto juga dinilai merupakan salah satu kabupaten penghasil tanaman pisang cukup banyak. Karena terdapat usaha UMKM keripik pisang yang cukup terkenal dan laku terjual di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga mereka mempunyai penghasilan yang cukup dari usaha keripik pisang tadi.
Akan tetapi, masyarakat di Kabupaten Mojokerto masih belum mengerti cara mengolah limbah kulit pisang tersebut, sehingga masih banyak limbah kulit pisang yang terbuang dan bahkan hanya dibuat pakan ternak saja. Sehingga hanya menjadi limbah atau sampah saja yang dapat mengotori lingkungan. Oleh karena itu mahasiswa KKN Untag Surabaya berinisiatif untuk membuat ide dalam mengolah limbah kulit pisang tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual ekonomis.
Kulit pisang merupakan bahan sisa atau bahan terbuang yang sudah tidak dipakai lagi. Oleh karena itu, mahasiswa KKN Untag Surabaya membuat sebuah inovasi berupa sabun cuci piring dari kulit pisang. Sabun pencuci piring dari kulit pisang ini terbuat dari limbah organik sehingga aman dan ramah untuk lingkungan.
Sabun pencuci piring merupakan bahan pencuci yang digunakan untuk membersihkan peralatan makan seperti piring, gelas, sendok, garpu, pisau dan peralatan dapur. Sabun pencuci piring terbagi menjadi tiga jenis bentuk. Yang pertama adalah pencuci piring berbentuk bubuk atau serbuk, yang kedua bentuk pasta, dan yang ketiga berbentuk cairan.
Di Desa Jatidukuh mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan usaha UMKM. Lebih dominannya usaha UMKM seperti keripik samiler, keripik pisang, keripik singkong dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu di Desa Jatidukuh juga banyak warung-warung kecil dan toko kelontong yang selalu membutuhkan penghilang noda dan minyak untuk alat-alat masak dan alat-alat makan lainnya.
Inovasi yang dibuat oleh mahasiswa KKN Untag Surabaya merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang tidak lain bertujuan untuk membantu melestarikan lingkungan dan memanfaatkan bahan yang telah terbuang dari pada hanya menumpuk menjadi sampah atau limbah. Walaupun bisa diuraikan oleh tanah tetapi lebih baik diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan dapat memberikan nilai jual sehingga akan menambah jumlah pendapatan penghasilan.
Mahasiswa Untag Surabaya ditugaskan untuk mengabdi di sebuah desa yang bernama Desa Jatidukuh untuk mengubah pola pikir dan kemampuan masyarakat agar lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan sampah atau limbah yang tidak digunakan lagi, baik itu limbah organik maupun non organik.
Dalam kegiatan pengabdian di Desa Jatidukuh, mahasiswa KKN Untag Surabaya melakukan sosialisasi atau penyuluhan di Balai Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang dengan mengumpulkan ibu-ibu PKK Desa Jatidukuh yang berjumlah 9 orang dan diantaranya ada 1 orang yaitu ibu lurah Desa Jatidukuh. Kegiatan program kerja pembuatan sabun cuci piring dari limbah kulit pisang ini dimulai pukul 10.00 WIB dan berakhir pukul 13.30 WIB.
Kegiatan program kerja ini dilaksanakan oleh 3 kelompok kecil KKN dan bukan hanya 1 kelompok saja. Kegiatan program kerja pembuatan sabun cuci piring dari limbah kulit pisang yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 17 Januari 2024 berjalan dengan tertib dan lancar hingga menghasilkan produk sabun pencuci piring dari limbah kulit pisang yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Jatidukuh terutama PKK Desa Jatidukuh.
Penulis: Nurjannahtin Aliatin, Dr. Mamang Efendy., S. Psi., M. Psi. (Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)
















