SIDOARJO,GELORAJATIM.COM – Maraknya Kasus kekerasan anak sekolah di Indonesia pada 2025-2026 meningkat, mencakup perundungan fisik/mental, kekerasan, dan verbal, yang melibatkan siswa. Kasus ini sering menyebabkan trauma berat.
Seperti yang terjadi baru baru ini perundungan atau bullying hingga berujung kekerasan fisik terjadi di sebuah MTs di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) wilayah Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo.
Dua siswa yang juga santri di Ponpes tersebut diduga terlibat perkelahian, tepatnya pada Selasa, 27 Januari 2026. Akibat kejadian itu salah satu siswa mengalami luka sayatan kurang lebih sepanjang 30 cm.
Berdasarkan informasi yang didapat , kekerasan bermula saat Wan (bukan nama sebenarnya, red) dugaannya mengganggu adik kelasnya yang sedang melaksanakan ibadah shalat.
Dari masalah tersebut keduanya cek-cok dan akhirnya berlanjut ke perkelahian yang menyebabkan Wan terluka bagian punggung kena sabetan cutter adik kelasnya. Wan kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Pihak sekolah saat dikonfirmasi pada Sabtu, 31 Januari 2026, membenarkan tentang kejadian tersebut. Melalui staf atau guru menyebutkan bahwa masalah tersebut telah diselesaikan.
”Benar mas, soal perkelahian itu sudah diselesaikan, tapi diselesaikan seperti apa saya kurang paham,” kata perempuan tersebut.
Menurut dia, Wan ini memang merupakan anak nambeng, bandel atau sulit diatur. “Kemungkinan keduanya sudah ada dendam, dan kemarin itu puncak kejengkelannya,“ tambah dia mengakhiri.
Sementara itu kepala sekolah MTs saat dikonfirmasi lebih lanjut melalui pesan WhatsApp belum membalas sejumlah pesan yang disampaikan.( Red)
















