Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Rumah sakit yang menangani ratusan korban keracunan massal setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo masih harus menunggu pembayaran biaya perawatan. Hingga Selasa (29/09/2026), tagihan perawatan sekitar 748 korban, yang terdiri dari santri dan siswa, disebut belum dibayarkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo untuk menghimpun seluruh nota tagihan dari rumah sakit yang menangani korban.
“Untuk korban yang sekitar 700-an itu sudah kami komunikasikan terus kepada rekan-rekan Dinkes untuk melakukan perekapan nota dari rumah sakit-rumah sakit yang terdampak,” kata Teguh, Selasa (29/09/2026).
Teguh menegaskan, seluruh biaya perawatan korban pada prinsipnya akan menjadi tanggungan BGN. Namun, pembayaran belum dapat diproses karena masih menunggu kelengkapan rekapitulasi biaya dari rumah sakit.
“Pada intinya BGN yang akan menanggung semuanya. Hanya saja kita butuh waktu perekapan nota dari rumah sakit-rumah sakit,” jelasnya.
Menurut Teguh, sampai saat ini masih terdapat rumah sakit yang belum menyerahkan seluruh rekapitulasi biaya perawatan. Kondisi tersebut membuat BGN belum dapat memastikan total nominal tagihan yang harus dibayarkan.
“Masih menunggu rekapan. Ada yang masih belum,” ujarnya. Ia juga belum dapat menyampaikan berapa nominal biaya yang sudah terkumpul maupun tagihan yang telah diterima BGN karena proses pendataan masih berlangsung.
Sementara itu, Bupati Sidoarjo Subandi membenarkan bahwa hingga saat ini belum ada pembayaran dari BGN untuk biaya perawatan para korban keracunan massal tersebut. Pemkab Sidoarjo masih menunggu perkembangan proses pembayaran dari pemerintah pusat.
“Untuk hari ini masih belum ada pembayaran dari BGN. Kita masih menunggu,” kata Subandi.
Subandi mengatakan, Pemkab Sidoarjo telah meminta Sekretaris Daerah (Sekda) untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Pihaknya juga akan kembali mengecek perkembangan pembayaran agar biaya perawatan rumah sakit segera mendapatkan kepastian.
“Coba nanti kita tanyakan kepada Sekda karena sudah kita perintahkan Sekda kemarin. Kalau hari ini belum, nanti kita tanyakan lagi,” tegasnya.
Menurut Subandi, percepatan pembayaran diperlukan karena rumah sakit telah memberikan pelayanan dan perawatan kepada para korban, termasuk anak-anak yang terdampak keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.
“Kasihan rumah sakit-rumah sakit yang kemarin menerima pasien anak-anak kita,” tuturnya.
Terkait total biaya yang harus dibayarkan BGN, Subandi mengaku belum menerima laporan secara rinci mengenai keseluruhan tagihan dari rumah sakit. “Masih belum laporan p
ada kita secara detailnya,” tandasnya. (rif)
















