Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Pembangunan di Sidoarjo hari ini terasa seperti bedak tebal yang dipoles di wajah yang belum sempat dicuci. Dari jauh tampak segar dan bercahaya, tapi begitu disentuh sedikit saja, retaknya langsung terasa. Sebagai warga yang setiap hari melintas dan menyaksikan sendiri denyut nadi jalanan kota ini, saya makin yakin: ada yang keliru dalam cara kita memaknai kemajuan.
Obsesi untuk terlihat setara dengan Surabaya seolah menjadi agenda tak tertulis. Ketika Surabaya punya ruang publik estetik, kita pun ikut mempercantik trotoar. Ketika mereka punya ikon infrastruktur megah, kita bangga dengan berdirinya Flyover Aloha. Namun pertanyaannya sederhana dan menusuk: untuk siapa semua itu, jika jalan penghubung antar-kecamatan saja masih seperti ladang ranjau?
Coba keluar dari jalur protokol. Melipir sedikit ke arah Gedangan, Taman, Sukodono, Krian, Balongbendo, Tarik atau Lingkar Timur selepas hujan. Di sana, wajah kota yang dipoles rapi langsung luntur. Aspal menganga, genangan menutup lubang, dan pengendara dipaksa menebak mana jalan, mana jebakan. Ini bukan lagi soal kenyamanan. Ini soal keselamatan yang dipertaruhkan setiap hari.
Lucunya, kita seolah menerima keadaan ini sebagai kewajaran. Seakan-akan tambalan seadanya sudah cukup disebut solusi. Padahal, setiap lubang yang dibiarkan adalah potensi kecelakaan yang sengaja dipelihara. Setiap genangan yang tak kunjung diperbaiki adalah bukti bahwa prioritas kita lebih condong pada yang terlihat indah ketimbang yang benar-benar dibutuhkan.
Pajak kendaraan dipungut disiplin. Warga taat membayar kewajiban. Tapi ketika ban pecah, velg peyang, atau pengendara terjatuh karena menghantam lubang, siapa yang benar-benar bertanggung jawab? Jangan sampai kesan yang muncul adalah: warga diminta patuh, sementara negara setengah hati memenuhi hak dasarnya.
Kita tidak menuntut pusat perbelanjaan sebanyak di Jalan Basuki Rahmat. Kita tidak merengek minta gedung tinggi atau air mancur menari. Yang diminta cuma satu: jalan yang berfungsi sebagaimana mestinya. Jalan yang tidak berubah menjadi kolam dadakan setiap hujan turun. Jalan yang tidak memaksa pengendara “berjoget” menghindari lubang sambil diteror kendaraan besar dari belakang.
Masalahnya bukan pada kurangnya anggaran semata, tapi pada keberanian menentukan prioritas. Infrastruktur dasar seharusnya berada di urutan pertama, bukan menjadi proyek tambal sulam setiap kali viral di media sosial. Kota tidak dibangun dengan pencitraan, melainkan dengan konsistensi memperbaiki hal-hal paling mendasar.
Jika ingin benar-benar dihormati, berhentilah membangun simbol sebelum menuntaskan fondasi. Sidoarjo tidak perlu menjadi bayangan siapa pun. Cukup menjadi kota yang warganya bisa berangkat kerja tanpa rasa cemas dan pulang tanpa mampir ke bengkel. Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan pada seberapa megah yang terlihat, melainkan seberapa sedikit warganya yang celaka di jalan sendiri. (rif)















