Hari jadi
Budaya

Sedekah Bumi Desa Gilang 2026 Meriah, Ki Blego Ardianto Pentaskan “Tumuruning Wahyu Katentreman”

496
×

Sedekah Bumi Desa Gilang 2026 Meriah, Ki Blego Ardianto Pentaskan “Tumuruning Wahyu Katentreman”

Sebarkan artikel ini
20260214 231529 Scaled
H. Bakhruddin Alim, S.Pd.I (Nomer dua dari kiri) menyerahkan Gunungan kepada Dalang Ki Blego Ardianto serta Dalang cilik Ki Danu
Info Iklan hubungi 085183255578

Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Semangat kebersamaan dan rasa syukur mewarnai gelaran Sedekah Bumi Desa Gilang Tahun 2026 yang digelar pada Sabtu (14/02/2026). Tradisi turun-temurun ini kembali dilaksanakan sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Maha Kuasa atas limpahan rezeki dan hasil bumi yang menopang kehidupan masyarakat.

Tradisi sedekah bumi sendiri merupakan bentuk selamatan desa yang sarat makna spiritual dan sosial. Selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini juga menjadi doa bersama agar warga senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Breaking News

Pemerintah Desa Gilang, Kecamatan Taman, terus berkomitmen melestarikan warisan budaya leluhur tersebut. Melalui agenda tahunan bertajuk “Sedekah Bumi Desa Gilang Tahun 2026”, masyarakat diajak memperkuat persatuan sekaligus menjaga nilai-nilai tradisi yang telah mengakar kuat di tengah kehidupan warga.

Puncak acara dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang kondang, Ki Blego Ardianto, serta dalang cilik Ki Danu dari Gresik. Kegiatan ini turut dihadiri Plt Kepala Desa Gilang H. Bakhruddin Alim, S.Pd.I, Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPD, LPMD, serta ratusan warga yang memadati lokasi acara.

Dalam sambutannya, Plt Kepala Desa Gilang, H. Bakhruddin Alim, menyampaikan apresiasi atas partisipasi seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan bahwa kesuksesan acara merupakan hasil gotong royong warga sejak persiapan yang dimulai Jumat pagi hingga berakhir Minggu dini hari.

“Saya atas nama Pemdes Gilang mengucapkan ribuan terima kasih atas kehadiran dan sumbangsih panjenengan semua. Baik tenaga maupun pikiran, semuanya turut mensukseskan kegiatan sedekah bumi ini,” ujar Bakhruddin saat membuka sambutannya.

Ia menjelaskan, sedekah bumi adalah selamatan desa agar seluruh warga diberi kesehatan, dimudahkan dalam mencari rezeki, dan dijauhkan dari mara bahaya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi doa kolektif demi terwujudnya Desa Gilang yang adem ayem dan gemah ripah loh jinawi.

Lebih lanjut, Bakhruddin menekankan pentingnya melestarikan tradisi sebagai warisan leluhur. Ia juga menyebut bahwa pagelaran wayang menjadi bagian dari upaya menghidupkan seni budaya sekaligus membuka pintu rezeki bagi para panjak dan dalang yang terlibat.

“Sedekah bumi ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Gusti Allah memberi rezeki melalui warga Desa Gilang yang kemudian menjadi berkah bagi para seniman seperti Ki Blego Ardianto dan seluruh kru,” imbuhnya.

Sementara itu, Ki Blego Ardianto membawakan lakon “Tumuruning Wahyu Katentreman” yang sarat pesan moral. Ia mengisahkan Negeri Ngamarta yang dipimpin Prabu Kunta Dewa tengah dilanda cobaan berupa wabah penyakit dan krisis pangan yang membuat rakyat hidup dalam kesulitan.

Dalam cerita tersebut, hadir sosok Endang Purbo Rini yang sakti mandraguna dan menantang para Pandawa. Atas petunjuk Prabu Krisna, Raden Janaka diminta menaklukkan Purbo Rini dengan cara merangkulnya penuh ketulusan. Seketika Purbo Rini berubah menjadi Pusaka Pasopati, dan wahyu ketentreman pun turun, memulihkan keadaan negeri menjadi tenteram dan sejahtera.

Melalui lakon itu, Ki Blego Ardianto menyampaikan pesan bahwa masyarakat tidak boleh melupakan adat dan budaya warisan leluhur. Filosofi “wahyu katentreman” mengajarkan bahwa ketenteraman akan datang ketika manusia menjaga tradisi, bersatu, dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Sang Pencipta. (rif)

Example 120x600
Info Iklan hubungi 085183255578