Hari jadi
Budaya

Lakon “Gatotkaca Winisuda” Semarakkan Bersih Desa Kramatjegu, Sarat Nilai Persatuan dan Kepemimpinan

2
×

Lakon “Gatotkaca Winisuda” Semarakkan Bersih Desa Kramatjegu, Sarat Nilai Persatuan dan Kepemimpinan

Sebarkan artikel ini
20260726 041433 1 Scaled
Prosesi penyerahan gunungan wayang oleh Kepala Desa Kramatjegu H. Samsul Arifin (Kanan kedua) kepada Dalang Ki Slamet Darmawan menandai dimulainya pagelaran wayang kulit lakon Gatotkaca Winisuda dalam rangka Bersih Desa Kramatjegu, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.
Info Iklan hubungi 085183255578

Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Kemeriahan menyelimuti Desa Kramatjegu, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (25/07/2026) malam. Ratusan warga memadati lokasi kegiatan Bersih Desa di Balai Desa Kramatjegu, yang ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Dalang Ki Slamet Darmawan dari Watugolong, Krian, yang membawakan lakon Gatotkaca Winisuda.

Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki, kesehatan, dan keamanan yang dirasakan selama ini. Selain melestarikan budaya leluhur, kegiatan juga menjadi ajang mempererat kebersamaan antarwarga.

Breaking News

Acara dihadiri Kepala Desa Kramatjegu H. Samsul Arifin, Kapolsek Taman Kompol Bagus Kurniawan, SH. M.H., Danramil 0816/14 Taman Kapten Arh Mukhlis Hariyanto, Kepala Desa Bringinbendo, Kepala Desa Krembangan, Anggota Komisi C DPRD Sidoarjo Muh. Zakaria Dimas Pratama, Ketua PKDI Kecamatan Taman H. Arifin, mantan Kepala Desa Kramatjegu H. Sukimin, tokoh masyarakat Sumar, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TP PKK Desa Kramatjegu, BPD, LPMD, para Ketua RT/RW, serta ratusan warga.

Rangkaian Bersih Desa diawali dengan hiburan musik campursari yang menghibur masyarakat sejak sore hingga malam hari. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyerahan Gunungan dari Kepala Desa ke Dalang Ki Slamet Darmawan menandai dimulainya pagelaran wayang kulit sebagai puncak peringatan tradisi bersih desa.

Ketua Panitia Bersih Desa Kramatjegu, Kusuma, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan.

“Kegiatan luar biasa ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur kita yang mendalam atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, mulai dari kemakmuran, kesehatan hingga kedamaian yang kita rasakan di desa tercinta ini,” ujar Kusuma.

Ia menambahkan, melalui rangkaian doa bersama, seluruh masyarakat juga memohon agar Desa Kramatjegu dijauhkan dari berbagai marabahaya, bencana, maupun musibah, serta seluruh warga diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kelancaran dalam mencari rezeki.

Sementara itu, Kepala Desa Kramatjegu H. Samsul Arifin menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Bersih Desa hingga berjalan dengan lancar.

“Kami atas nama Pemerintah Desa menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh warga Desa Kramatjegu atas dukungan dan kerja samanya sehingga kegiatan ruah desa malam hari ini dapat terlaksana sesuai harapan. Tanpa dukungan seluruh lapisan masyarakat, kegiatan ini tidak mungkin bisa terselenggara dengan baik,” tutur Samsul Arifin.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras, serta para donatur yang ikut berpartisipasi sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan sukses.

Menurutnya, sebelum pagelaran wayang kulit, masyarakat telah melaksanakan istighosah dan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar memohon keberkahan bagi desa dan seluruh warganya.

“Mudah-mudahan seluruh rangkaian kegiatan ini menjadikan warga Desa Kramatjegu senantiasa diberikan panjang umur, murah rezeki, keberkahan hidup, serta kami sebagai kepala desa baru terus mendapatkan dukungan dan kerja sama dari seluruh masyarakat agar dapat mengemban amanah dan membawa Kramatjegu menjadi desa yang lebih maju,” imbuhnya.

Dalam pagelaran tersebut, Ki Slamet Darmawan membawakan lakon Gatotkaca Winisuda yang mengisahkan pengangkatan Raden Gatotkaca sebagai Raja Kerajaan Pringgondani bergelar Prabu Kacanegara setelah tahta kerajaan kosong. Penobatan itu sempat memicu konflik akibat hasutan Durna dan Sengkuni yang mengadu domba Brajadenta agar merebut tahta.

Melalui kepemimpinan yang bijaksana dan keberaniannya, Gatotkaca akhirnya mampu meredam konflik, menyatukan kembali keluarga Pringgondani, serta mengembalikan kedamaian kerajaan. Lakon tersebut menjadi pesan moral bagi masyarakat agar selalu menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah, serta tidak mudah terprovokasi oleh hasutan yang dapat memecah belah kebersamaan. (rif)

Example 120x600
Info Iklan hubungi 085183255578