SURABAYA, GELORAJATIM.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) SDGs kelompok 50 UPN “Veteran” Jawa Timur menggelar kegiatan sosialisasi pendayagunaan mesin peniris minyak dan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi pada Rabu (16/7/2025), bertempat di Gedung Serbaguna Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan mesin peniris minyak yang ramah lingkungan dan pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan pembuatan lilin aromaterapi yang memiliki nilai guna tinggi.
Acara berlangsung mulai pukul 13.00-15.00 WIB, yang dihadiri oleh Ketua PKK, anggota PKK, serta perwakilan dari UMKM Anugerah. Sosialisasi dipandu langsung oleh Triesta Savana Putri yang bertugas sebagai pembawa acara. Adapun sesi pemaparan materi disampaikan oleh Moch. Nur Irsyad Prabawanto dan Ima Putriana, yang merupakan perwakilan dari KKN SDGs kelompok 50. Selama kegiatan berlangsung, suasana berjalan dengan antusias dan interaktif, dimana para peserta menyimak materi serta berdiskusi tentang mesin peniris minyak dan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.
Teknologi Tepat Guna (TTG): Mesin Peniris Minyak Ramah Lingkungan
Pada saat sosialisasi, para peserta diperkenalkan Teknologi Tepat Guna (TTG) khususnya mesin peniris minyak yang dirancang khusus berskala industri rumahan. Mesin ini bekerja dengan memanfaatkan penggerak motor yang memutar pulley, sehingga menghasilkan putaran pada penyaring yang terletak di dalam tabung mesin. Proses perputaran tersebut berfungsi memisahkan sisa-sisa minyak dari bahan makanan yang telah digoreng. Minyak hasil tirisan akan terkumpul secara otomatis pada wadah penampung yang telah disediakan di sisi mesin. Mesin peniris minyak sangat cocok digunakan meniriskan berbagai jenis makanan goreng seperti bawang goreng, keripik singkong, dan produk sejenis lainnya. Dengan adanya mesin ini, proses penirisan minyak menjadi lebih higienis dan efisien.
Dari Limbah Jadi Manfaat: Lilin Aromaterapi Berbahan Minyak Jelantah

Pemateri menjelaskan bahwa limbah minyak jelantah mengandung senyawa beracun hasil pemanasan berulang, seperti radikal bebas dan akrolein, yang berpotensi memicu penyakit kanker apabila dikonsumsi. Selain membahayakan kesehatan, pembuangan limbah minyak jelantah secara sembarangan juga dapat mencemari udara dan tanah, serta menyebabkan penyumbatan pada saluran pembuangan. Oleh karena itu, limbah minyak jelantah masih mempunyai potensi untuk dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, salah satunya adalah sebagai lilin aromaterapi. Pemanfaatan ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi limbah rumah tangga, tetapi mendukung gerakan zero waste, sirkuler ekonomi, serta membuka peluang usaha ramah lingkungan.
Pada kegiatan tersebut, pemateri melakukan demonstrasi pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi terlebih dahulu dan menjelaskan bahan-bahan yang digunakan, sambil mempraktikkan proses pengolahannya secara langsung.
“Proses pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi ini cukup sederhana, Ibu-Ibu. Langkah pertama yaitu menyaring minyak jelantah, kemudian campurkan pewarna alami dari bunga telang yang sudah diekstraksi. Setelah itu, satukan dengan palm wax. Nyalakan kompor, aduk hingga meleleh dan merata menggunakan api kecil. Ketika semua bahan sudah tercampur rata, masukkan esensial oil dan matikan kompor. Tuangkan ke dalam cetakan, pasang sumbu di tengah cetakan. Tambahkan hiasan bunga telang, jepit sumbu menggunakan stik es krim agar tetap tegak. Biarkan mengeras 1-2 jam di suhu ruang. Jika sudah mengeras lilin aromaterapi siap digunakan,” jelas pemateri.
Mahasiswa KKN SDGs kelompok 50 turut mempraktikkan proses pengolahan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah bersama anggota PKK setempat. Para peserta telah dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil guna mempermudah jalannya praktik. Setiap kelompok terdiri dari empat orang, sehingga memungkinkan terjadinya kolaborasi yang lebih efektif antar anggota dalam memahami tahapan pengolahan. Melalui kegiatan ini, diharapkan para anggota PKK tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga keterampilan praktik yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah maupun dikembangkan menjadi peluang usaha kreatif berbasis ramah lingkungan.
Respon Peserta
Kegiatan sosialisasi disertai berbagai pertanyaan dari peserta. Salah satu anggota PKK, Ibu Astuti, menanyakan terkait penggunaan esensial oil dalam pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. “Esensial oil kan mahal ya, Mbak. Apakah ada pengganti esensial oil yang lebih murah?” tanyanya. Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh pemateri dengan memberikan alternatif bahan, yaitu parfum bibit non-alkohol atau pewangi lain yang lebih terjangkau.

Selain itu, Ibu Lilis Krisnarwati selaku Ketua PKK Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya, menyampaikan apresiasi serta rasa terima kasih atas ilmu maupun wawasan baru yang diberikan oleh mahasiswa KKN terkait mesin peniris minyak dan cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, yang memanfaatkan pewarna alami beserta hiasan bunga telang.
“Setelah kemarin kami belajar cara membuat sabun dari minyak jelantah, alhamdulillah hari ini mendapatkan tambahan ilmu baru yaitu inovasi mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Tidak hanya itu, kami juga ditunjukkan mesin peniris minyak yang harganya lebih terjangkau cukup dengan Rp250.000 saja sudah bisa meniriskan minyak di makanan secara praktis. Saya ucapkan terima kasih semoga ilmu baru ini bisa diimplementasikan oleh Ibu-Ibu PKK dirumah, dapat menambah pendapatan serta membantu para pelaku UMKM yang membutuhkan alat peniris minyak tanpa harus mengeluarkan biaya besar”. ujar Ibu Lilis Krisnarwati.
Penulis: Diva Ayu Pratiwi Firdaus, Triesta Savana Putri, Ryfta Muflihatul Alfiah, Aisyah Arialma, Laura Faradina Wally
















