Hari jadi
PeristiwaReligi

Sejarah Mbah Dirjo Joyo Ulomo Diungkap, Warga Tuntut Tanggung Jawab atas Pembongkaran Makam

219
×

Sejarah Mbah Dirjo Joyo Ulomo Diungkap, Warga Tuntut Tanggung Jawab atas Pembongkaran Makam

Sebarkan artikel ini
20260427 182503 Scaled
Dari kanan ke kiri: Gus Choirul Ambiya' Saifudin dan Moh. Dahlan saat menceritakan riwayat sejarah Mbah Dirjo Joyo Ulomo.
Info Iklan hubungi 085183255578

Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Polemik pembongkaran makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo di kawasan Taman, Sidoarjo, hingga kini masih memantik reaksi luas dari masyarakat. Belum adanya langkah konkret dari pemerintah kecamatan untuk mempertemukan para sesepuh, tokoh agama, maupun pihak yang memahami sejarah makam tersebut membuat kekecewaan warga kian menguat. Sejumlah tokoh sejarah lokal dan ahli waris tanah makam pun angkat bicara, Senin (27/04/2026) malam.

Choirul Ambiya’, tokoh masyarakat Ngelom yang mengaku memahami riwayat Mbah Dirjo Joyo Ulomo, menegaskan bahwa sosok tersebut bukan orang sembarangan. Menurut penuturan para sesepuh dan ulama di kawasan Sepanjang, Mbah Dirjo Joyo Ulomo diyakini merupakan pasukan Pangeran Diponegoro dari Mataram yang melarikan diri saat masa penjajahan Belanda, kemudian menetap di Ngelom dan menjadi santri Mbah Raden Ali.

Breaking News

“Beliau ini santri Mbah Raden Ali, kemudian diamanahi untuk dirawat oleh Mbah Joyo Ulomo. Dari sinilah masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang memiliki karomah dan dihormati. Sudah sejak dulu banyak peziarah datang ke makam itu. Jadi kalau sekarang ada yang meragukan keberadaan makam tersebut, itu sangat bertentangan dengan sejarah yang dipahami masyarakat setempat,” ujar Gus Ambiya’ panggilan akrab beliau.

Ia juga membantah keras tudingan yang menyebut di lokasi makam ditemukan benda-benda tak pantas seperti boneka. Gus Ambiya’ mengaku pernah ikut menggali area makam hingga kedalaman lebih dari satu meter saat polemik serupa mencuat pada 2025. “Yang kami temukan adalah nisan lama dengan ornamen khas, bukan seperti tudingan yang beredar. Pernyataan semacam itu sangat merendahkan ulama dan melukai perasaan warga yang selama ini menghormati Mbah Dirjo,” tegasnya.

Sementara itu, Saifudin, warga Wonocolo sebagai ahli waris tanah lokasi makam, menyebut lahan tersebut telah diwakafkan secara khusus untuk makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo. Menurutnya, status wakaf itu diwariskan turun-temurun dari keluarganya. “Tanah itu memang diperuntukkan bagi makam Mbah Dirjo. Ada surat pernyataan dari kelurahan yang menerangkan riwayat tanah tersebut. Karena itu sejak dulu pihak pasar pun tidak berani membongkar, sebab statusnya jelas untuk makam,” ungkap Saifudin.

Keterangan serupa disampaikan Moh Dahlan, paman Saifudin, yang mengaku telah menyaksikan keberadaan makam itu sejak kecil. Pria kelahiran 1954 tersebut menuturkan makam Mbah Dirjo sudah ada jauh sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi pasar. Bahkan, peziarah disebut datang dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Jombang, hingga luar Sidoarjo. “Saat tanah itu dipakai untuk pembangunan pasar, keluarga kami hanya meminta satu hal: makam Mbah Dirjo jangan dibongkar dan justru diperbaiki. Tapi yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Kami kecewa dan berharap makam itu dibangun kembali,” kata Moh Dahlan.

Desakan agar persoalan ini segera dituntaskan kini semakin menguat. Choirul Ambiya’ meminta aparat pemerintah, keamanan, dan pihak terkait serius menindaklanjuti kasus pembongkaran tersebut, termasuk memproses pihak yang diduga bertanggung jawab. Warga juga mengisyaratkan akan melakukan gerakan besar bila tak ada kejelasan hukum. “Harapan kami hanya satu, bangun kembali makam itu untuk kemaslahatan umat. Jangan abaikan sejarah, jangan lukai perasaan masyarakat yang selama ini menjaga dan menghormati tempat itu,” pungkas Gus Ambiya’. (rif)

Example 120x600
Info Iklan hubungi 085183255578