Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Mengenal kehidupan di balik tembok pemasyarakatan menjadi pengalaman berharga bagi ratusan pelajar SMP Plus Arroudhoh Sedati, Sidoarjo. Melalui kunjungan edukasi ke Lapas Kelas I Surabaya, para siswa diajak memahami konsekuensi pelanggaran hukum sekaligus belajar tentang pentingnya menjaga diri, menjauhi narkoba, dan mempersiapkan masa depan, Senin (26/10/2026).
Sebanyak 285 siswa bersama 15 guru SMP Plus Arroudhoh Sedati mengikuti kunjungan edukasi perdana ke Lapas Kelas I Surabaya, di bawah naungan Kanwil Ditjenpas Jawa Timur. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan dunia pemasyarakatan secara langsung, memahami fungsi pembinaan warga binaan, serta menanamkan kesadaran hukum dan tanggung jawab kepada generasi muda sejak dini.
Kepala SMP Plus Arroudhoh Sedati, Muhammad Fatkhur Rohman, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran nyata bagi para siswa. Menurutnya, pengalaman melihat langsung kehidupan di dalam lapas dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan sekadar menerima materi di ruang kelas.
“Anak-anak perlu melihat dan memahami secara langsung agar bisa termotivasi menjaga diri dan masa depan. Kami berharap pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan serta mampu menentukan arah hidup yang positif,” ungkap Muhammad Fatkhur Rohman.
Dalam pelaksanaannya, para siswa dibagi menjadi 10 kelompok untuk mengikuti tur edukasi ke sejumlah fasilitas lapas. Mereka diperkenalkan dengan area kemandirian dan keterampilan meubelair, ketahanan pangan, ruang kunjungan, Dapur Sehat Latubaya, Klinik Pratama Latubaya, area ibadah, hingga Blok E. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan di Aula MD Arifin untuk menerima pengarahan langsung dari Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman.
Sohibur Rachman menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar memahami kehidupan pemasyarakatan secara utuh. Ia menegaskan bahwa lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam membina warga binaan agar dapat kembali ke tengah masyarakat.
“Kami ingin adik-adik mengetahui apa itu lapas dan memahami bahwa ketika seseorang menjalani pidana, ada konsekuensi berupa pembatasan kebebasan bergerak,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak mudah memberikan stigma negatif kepada orang-orang yang pernah menjalani hukuman pidana. Menurutnya, pembinaan di dalam lapas bertujuan mempersiapkan warga binaan untuk memperbaiki diri dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
“Jangan mudah melabeli mantan narapidana sebagai orang jahat. Tugas kami adalah membina dan mempersiapkan mereka agar siap kembali ke masyarakat. Saya berharap adik-adik dapat menyebarkan informasi yang baik kepada lingkungan bahwa lapas bukan sekadar tempat menjalani pidana, tetapi juga tempat pembinaan yang memanusiakan manusia,” tegas Sohibur Rachman.
Suasana edukasi semakin bermakna ketika para siswa berkesempatan mendengarkan langsung pengalaman dan pesan moral dari dua warga binaan, yakni seorang narapidana kasus terorisme atau napiter dan seorang narapidana kasus narkotika. Keduanya menyampaikan pesan agar para pelajar tidak terjerumus dalam tindakan yang dapat merusak kehidupan serta masa depan mereka.
Perwakilan warga binaan kasus terorisme berpesan kepada para siswa agar menghindari segala bentuk konflik dan tidak mudah terlibat dalam tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Jangan sampai terlibat konflik dalam bentuk apa pun,” pesannya di hadapan para pelajar.
Sementara itu, narapidana kasus narkotika mengingatkan para siswa agar tidak terpengaruh lingkungan pergaulan yang menormalisasi penyalahgunaan narkoba. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk menjauhi narkoba bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan langkah penting untuk menjaga masa depan.
“Jangan takut dibilang tidak keren hanya karena tidak memakai narkoba. Narkoba justru bisa menghancurkan masa depan kalian,” pesannya.
Kegiatan kunjungan edukasi tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggali informasi lebih jauh mengenai kehidupan warga binaan dan program pembinaan di dalam lapas. Penyerahan cinderamata serta foto bersama menjadi penutup kegiatan yang diharapkan mampu menanamkan kesadaran hukum, membangun karakter positif, dan mendorong para pelajar untuk menjauhi perilaku berisiko demi masa depan yang lebih baik. (rif)
















