Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Suasana khidmat mewarnai kegiatan Ziarah Muassis Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar PCNU Sidoarjo dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke-103, Sabtu (24/01/2026). Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari tersebut menjadi momentum mengenang sekaligus menghormati jasa para pendiri NU di Kabupaten Sidoarjo.
Ziarah Muassis NU merupakan agenda rutin tahunan PCNU Sidoarjo yang dilaksanakan setiap peringatan Harlah NU. Kegiatan ini diikuti jajaran pengurus PCNU, badan otonom, serta warga nahdliyin yang dengan penuh kekhusyukan mengunjungi makam para ulama pendiri NU di berbagai wilayah.
Sekretaris PCNU Sidoarjo, K.H. Agus Mahbub Ubaidillah, menjelaskan bahwa pelaksanaan ziarah tahun ini dibagi menjadi tiga rombongan guna menjangkau seluruh titik makam muassis NU. “Kegiatan hari ini merupakan kegiatan rutin setiap Harlah NU di Sidoarjo. Dibagi menjadi tiga rombongan, yakni rombongan selatan, tengah, dan barat,” ujarnya.
Menurut Kiai Agus, pembagian rombongan dilakukan agar ziarah dapat berjalan efektif dan merata. “Total hari ini ada 18 titik makam di seluruh Kabupaten Sidoarjo, meliputi wilayah Sidoarjo Tengah, Barat, dan Timur,” katanya.
Ia menegaskan, ziarah muassis bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk khidmah sekaligus upaya merawat ingatan kolektif warga NU terhadap sejarah perjuangan para ulama. “Ini bagian dari khidmah kita di NU, menghargai jasa-jasa para leluhur Nahdlatul Ulama yang telah membangun organisasi di Sidoarjo. Kita ngeling-eling, nguri-nguri jasa beliau-beliau agar perjuangannya bisa kita lanjutkan,” tuturnya.
Salah satu titik penting dalam rangkaian ziarah tersebut adalah makam KH Hosein Idris yang berada di Kompleks Makam Bumi Mergayu, Kelurahan Bebekan, Kecamatan Taman. KH Hosein Idris dikenal sebagai tokoh sentral pendirian NU di wilayah Sidoarjo, khususnya kawasan Sepanjang.
Cucu KH Hosein Idris, H. Ahmad Humam, mengungkapkan sejarah awal berdirinya NU di wilayah tersebut. Ia menjelaskan bahwa NU di Sepanjang bermula pada tahun 1928. “Waktu itu ada dua santri, Kiai Chamim Syahid dan Kiai Hosein Idris. Mereka dipanggil ke Jombang oleh Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, lalu diminta kembali ke daerah Sepanjang untuk mendirikan NU,” jelasnya.
Ahmad Humam menyebut, berdirinya NU di Sepanjang memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perjalanan organisasi. “Tahun 1928 berdirilah NU ranting pertama se-Indonesia, namanya Kring Bebekan. Lokasinya dulu ada di rumah sebelah sini,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa ziarah ke makam para pendiri NU di Sidoarjo selalu menjadi agenda utama setiap peringatan Harlah NU. “Setiap Harlah NU pasti ada ziarah ke makam pendiri NU Sidoarjo. Ketua Ranting NU pertama itu Mbah KH Hosein Idris,” katanya.
Terkait perawatan makam dan langgar bersejarah di Kompleks Bumi Mergayu, Ahmad Humam menyampaikan bahwa hingga kini masih dikelola oleh pihak keluarga. “Pengurusannya masih keluarga. Langgar ini sampai sekarang tidak masuk dalam waris, jadi masih utuh milik Mbah Buyut,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Ziarah Muassis NU ini, PCNU Sidoarjo berharap semangat perjuangan para ulama pendiri NU terus hidup, menginspirasi kader dan generasi muda Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan perjuangan dalam menjaga agama, bangsa, dan peradaban. (rif)
















