Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, dibuat geram saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan proyek pembangunan Pasar Taman, Selasa (13/10/2026). Dalam peninjauan tersebut, Mimik menemukan sejumlah pekerjaan yang dinilai masih jauh dari harapan, mulai dari kualitas pemasangan paving, saluran air yang tidak tersambung, hingga dugaan penggunaan material bangunan yang tidak sesuai dengan spesifikasi dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai perencanaan dan standar kualitas yang telah ditentukan. Dalam kegiatan itu, Mimik didampingi Kepala Inspektorat Daerah Kabupaten Sidoarjo Andjar Surjadianto, S.Sos., CGCAE., Camat Taman Ahmad Fauzi, S.STP., M.HP., Kepala UPT Pasar Taman Sumali, Kepala Kelurahan Wonocolo Yogi Mahardika, S.T., Pengawas dan Pelaksana Proyek serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Saat memeriksa sejumlah bagian bangunan, Mimik menyoroti adanya pekerjaan yang dianggap tidak memenuhi spesifikasi. Bahkan, ia meminta material bangunan yang telah dibongkar untuk diamankan guna dilakukan pengujian laboratorium, terutama untuk mengetahui kandungan semen dan memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi teknis proyek.
Menurut Mimik, temuan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan mutu bangunan dan penggunaan anggaran daerah. Ia meminta Inspektorat Kabupaten Sidoarjo segera menindaklanjuti temuan tersebut agar dapat diketahui apakah pelaksanaan pekerjaan telah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
“Temuan tadi, terutama material yang diduga tidak sesuai spesifikasi, harus segera ditindaklanjuti. Kebetulan tadi saya didampingi Inspektorat, sehingga saya minta supaya segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tegas Mimik Idayana saat sidak di kawasan Pasar Taman.
Selain kualitas material, persoalan saluran air juga menjadi perhatian serius. Mimik menemukan beberapa saluran baru yang tidak tersambung dengan saluran lama. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat aliran air sehingga perlu segera dicarikan solusi teknis agar sistem drainase di kawasan pasar dapat berfungsi secara optimal.
Pemasangan paving turut mendapat sorotan. Menurut Mimik, kualitas material dan pengerjaannya masih perlu diperbaiki karena ditemukan pemasangan yang kurang presisi, celah antar paving yang renggang, serta kanstin atau pengunci tepi paving yang dinilai belum terpasang rapat. Ia meminta pihak pelaksana dan pengawas melakukan pembenahan agar hasil pekerjaan memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan.
Permasalahan lain ditemukan pada peninggian jalan yang tidak diimbangi saluran air memadai di sisi kanan dan kiri. Posisi jalan yang lebih tinggi dibandingkan lapak pedagang dikhawatirkan membuat air mengalir dan menggenang di area tempat berjualan.
“Kalau jalan lebih tinggi daripada lapak pedagang, sementara saluran air di kanan dan kirinya tidak tersedia dengan baik, ini berpotensi menimbulkan banjir. Jadi, persoalan drainase harus benar-benar diselesaikan,” ujar Mimik.
Mimik juga mengungkapkan bahwa progres pekerjaan proyek Pasar Taman baru mencapai 58 persen, dengan deviasi keterlambatan sebesar 17 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil peninjauan sebelumnya yang mencatat deviasi 15 persen. Ia menilai keterlambatan tersebut harus segera diatasi dengan menambah jumlah tenaga kerja dan menerapkan sistem lembur, tanpa mengabaikan kualitas pekerjaan.
“Untuk mengejar keterlambatan, kontraktor harus menambah tenaga kerja dan melakukan lembur. Namun, jangan sampai karena ingin mengejar target waktu, kualitas pekerjaan justru dikorbankan. Semua harus sesuai spesifikasi dan perencanaan,” tandasnya.
Usai meninjau Pasar Taman, Mimik juga menyoroti kondisi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Ngelom. Ia menyebut peninjauan tersebut merupakan sidak ketiganya terhadap rusunawa di Kabupaten Sidoarjo. Kondisi fasilitas yang memprihatinkan, saluran air yang tidak berfungsi, serta tumpukan sampah di sejumlah titik menjadi catatan yang harus segera mendapatkan penanganan dari OPD terkait.
Saat sidak Rusunawa Ngelom, Mimik Idayana didampingi Kepala UPT Rusunawa Ngelom , Kurniawan, pengelola Rusunawa Ngelom Arif Banyu Adam dan Ketua Paguyuban Warga Rusunawa Ngelom Imam Syafi’i.
Menurut Mimik, tingkat hunian Rusunawa Ngelom disebut telah mencapai sekitar 75 persen. Namun, kondisi sejumlah fasilitas dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan para penghuni. Ia meminta Dinas Perumahan, Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (P2CKTR) mengevaluasi sistem pengelolaan dan pemeliharaan rusunawa, termasuk penggunaan anggaran operasional serta biaya perawatan yang telah diajukan.
“Penghuninya sudah menjalankan kewajibannya dengan membayar sewa, sehingga pemerintah juga harus memenuhi hak mereka untuk mendapatkan fasilitas yang layak. Sampah ada di mana-mana, saluran air mampet, dan kondisi fasilitas memprihatinkan. Saya minta OPD terkait segera menindaklanjuti,” kata Mak Mimik panggilan akrab beliau.
Ia juga mempertanyakan pengelolaan pendapatan rusunawa yang disebut menyumbang sekitar Rp 1,3 miliar setiap tahun ke APBD Kabupaten Sidoarjo. Sementara itu, pengajuan biaya perawatan sekitar Rp 170 juta untuk tahun berjalan perlu diperjelas peruntukannya. Selain itu, Mimik menyoroti pembangunan Mushola di halaman depan rusunawa yang hingga kini belum selesai. Ia menyebut kemungkinan keterlibatan pihak swasta untuk membantu penyelesaian pembangunan tersebut akan dikoordinasikan lebih dahulu dengan dinas terkait, termasuk mengenai aturan yang berlaku. (rif)
















