Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan sekaligus pembentukan karakter generasi muda ditunjukkan Kapolsek Taman Kompol Bagus Kurniawan, S.H., M.H., Senin (19/10/2026). Mengawali aktivitas pada awal pekan, ia turun langsung mengatur arus lalu lintas di simpang empat Jalan Raya Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, guna mengantisipasi kepadatan kendaraan pada jam sibuk pagi hari.
Kehadiran orang nomor satu di jajaran Polsek Taman tersebut menjadi perhatian pengguna jalan. Dengan membantu mengurai kepadatan kendaraan di persimpangan, Kompol Bagus berupaya memastikan mobilitas masyarakat berjalan lancar, tertib, dan aman, sekaligus meningkatkan keselamatan pengendara serta pengguna jalan lainnya.
Kapolsek Taman Kompol Bagus Kurniawan mengatakan, pengaturan lalu lintas pada awal pekan merupakan bagian dari pelayanan kepolisian kepada masyarakat. Menurutnya, meningkatnya aktivitas warga pada Senin pagi membutuhkan kesiapsiagaan petugas, khususnya di persimpangan yang berpotensi mengalami kepadatan kendaraan.
“Pengaturan lalu lintas ini merupakan bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Kami ingin memastikan arus kendaraan tetap lancar, tertib, dan aman, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya dengan nyaman. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi perhatian bersama,” ujar Kompol Bagus.

Usai membantu mengatur lalu lintas, Kompol Bagus melanjutkan kegiatan dengan menghadiri upacara bendera hari Senin di SDN Wonocolo 2, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Kedatangannya yang terkesan mendadak sempat membuat Kepala Sekolah Susanti beserta para guru dan siswa terkejut. Namun, suasana berubah menjadi sambutan positif setelah diketahui bahwa kehadiran Kapolsek bertujuan memberikan edukasi mengenai bahaya perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Dalam amanatnya di hadapan para siswa, Kompol Bagus menekankan pentingnya membangun pertemanan yang sehat, saling menghormati, serta menjaga kerukunan. Ia mengingatkan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa untuk menuntut ilmu, mengembangkan potensi, dan meraih prestasi tanpa rasa takut akibat perlakuan buruk dari teman sebaya.
Menurutnya, bullying tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui perkataan maupun perilaku sosial. Mengejek, menghina, mengucilkan, mengancam, hingga mempermalukan teman di hadapan orang lain tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa apabila tindakan tersebut menyakiti atau merugikan orang lain.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar. Saya mengimbau seluruh siswa agar saling menghargai, tidak melakukan bullying, dan membangun pertemanan yang positif. Jangan sampai ada teman yang merasa takut atau tidak nyaman saat berada di sekolah,” tegas Kompol Bagus.
Ia juga mengingatkan bahwa perundungan dapat berdampak terhadap kondisi psikologis, kepercayaan diri, hingga semangat belajar anak. Karena itu, para siswa diminta tidak takut menyampaikan kepada guru apabila mengalami atau menyaksikan tindakan bullying. Keberanian melapor menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perundungan berulang sekaligus melindungi sesama teman.
Kompol Bagus mengajak para siswa agar tidak ikut melakukan perundungan hanya demi mendapatkan pengakuan dari kelompok pertemanan. Menurutnya, siswa yang hebat bukanlah mereka yang mampu menakuti atau merendahkan orang lain, melainkan mereka yang peduli, berani melindungi teman, dan mampu menciptakan suasana pergaulan yang saling mendukung.
Kegiatan tersebut merupakan wujud nyata semangat “Polisi Bersama Masyarakat”, yang menegaskan bahwa kehadiran kepolisian tidak hanya sebatas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung dunia pendidikan, memberikan edukasi, serta membina karakter generasi muda sejak dini. Melalui pendekatan humanis, Polsek Taman berupaya membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menanamkan kesadaran tentang pentingnya keselamatan, kepedulian, dan sikap saling menghormati.
Kepala Sekolah SDN Wonocolo 2, Susanti, mengaku sempat terkejut ketika mengetahui Kapolsek Taman datang langsung ke sekolahnya. Ia tidak menyangka kunjungan tersebut bertujuan memberikan amanat sekaligus sosialisasi pencegahan bullying kepada para siswa. Meski awalnya heran, Susanti menyambut baik kepedulian jajaran kepolisian terhadap dunia pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak.
“Alhamdulillah, awalnya saya sempat kaget karena tidak biasanya Bapak Polisi, apalagi Bapak Kapolsek, datang langsung ke sekolah kami. Saya sempat bertanya-tanya ada apa, ternyata beliau hadir untuk memberikan amanat kepada anak-anak tentang sosialisasi bullying. Saya senang karena ada respons positif dan kepedulian dari pihak Polsek Taman terhadap pendidikan serta pembentukan karakter anak-anak,” ujar Susanti.
Susanti menilai, persoalan bullying di sekolah perlu mendapatkan perhatian serius karena bentuknya beragam dan terkadang tidak disadari oleh siswa. Perilaku mengolok-olok teman, misalnya, sering dianggap sebagai candaan dalam pergaulan sehari-hari, padahal perkataan tersebut dapat menyakiti perasaan dan menurunkan kepercayaan diri anak yang menjadi sasaran.
“Bullying itu bermacam-macam, bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga secara lisan, seperti mengolok-olok teman. Di sekolah kami mungkin ada perilaku seperti itu dalam taraf ringan, tetapi sebagai guru dan pendidik, kami harus terus memberikan nasihat dan pemahaman kepada anak-anak agar tidak melakukan tindakan tersebut. Kami berharap melalui sosialisasi ini, siswa semakin memahami pentingnya menghormati teman dan menjaga perasaan orang lain,” tambah Susanti.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan bersama antara pihak sekolah, orang tua, siswa, dan kepolisian. Semangat “Polisi Bersama Masyarakat” diharapkan terus terwujud melalui sinergi dalam menjaga keamanan, memberikan perlindungan, serta membangun lingkungan pendidikan yang sehat dan ramah anak.
Melalui edukasi sejak dini dan pengawasan berkelanjutan, diharapkan para siswa dapat belajar dengan tenang tanpa dihantui rasa takut akibat perundungan. Dengan demikian, generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi, berkarakter, berakhlak baik, serta mampu menghargai dan melindungi sesama. (rif)
















