GELORAJATIM.COM — Minggu (12/7/2026l). “Mengapa harga jahe merah sering jatuh, padahal dunia sedang menggandrungi produk herbal?”. Pertanyaan itu berulang kali muncul dalam diskusi dengan petani dan pengelola BUMDes Sari Bumi di Kabupaten Trenggalek. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat. Di sisi lain, harga jual hasil panen sering tidak sebanding dengan kerja keras selama berbulan-bulan.
Ironisnya, persoalan ini terjadi saat permintaan global terhadap produk herbal justru sedang naik. Laporan pasar menunjukkan tren _wellness_, pangan fungsional, minuman kesehatan, dan produk alami mendorong pertumbuhan pasar jahe dunia. Berbagai lembaga riset memproyeksikan pasar jahe akan terus tumbuh dalam dekade mendatang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat dan kebutuhan industri pangan, farmasi, serta kosmetik.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar. FAO menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen jahe terbesar di dunia. Namun, produksi besar belum mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama produk jahe bernilai tambah. Sebagian besar jahe masih dijual dalam bentuk segar. Padahal nilai ekonomi terbesar justru muncul setelah produk diolah, diberi identitas merek, dikemas baik, dan dipasarkan secara profesional.
*Masalahnya Bukan Produksi, Tapi Nilai*
Selama ini, pembahasan masih berkutat pada cara meningkatkan produksi pertanian. Padahal yang kurang disentuh adalah bagaimana meningkatkan nilai produk pertanian. Petani diajarkan menghasilkan panen yang baik, tetapi belum banyak yang membantu mereka memahami cara konsumen memutuskan membeli.
Dalam ilmu pemasaran modern, konsumen tidak lagi membeli produk karena fungsinya semata. Mereka membeli makna, cerita, kepercayaan, dan nilai.
Hal inilah yang ditemukan dalam pendampingan BUMDes Sari Bumi di Trenggalek. Awalnya diskusi fokus pada hal teknis seperti membuat akun media sosial, berjualan di marketplace, memperbaiki kemasan, dan meningkatkan penjualan.
Namun setelah didalami, akar masalahnya berbeda. Masalah terbesar bukan karena masyarakat tidak bisa menggunakan media digital. Masalah utamanya adalah belum adanya cerita yang ingin disampaikan ke pasar.
Padahal jahe merah Trenggalek memiliki keunggulan. Kandungan gingerol dan minyak atsirinya lebih tinggi dibanding varietas lain. Produk ini juga berasal dari desa yang dikelola BUMDes, melibatkan petani lokal, dan berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat. Semua itu adalah aset pemasaran bernilai, tetapi belum dikomunikasikan ke konsumen.
Akibatnya, jahe merah hanya dipersepsikan sebagai rimpang, bukan sebagai sebuah merek. Di era digital, kesalahan banyak pelaku usaha bukan tidak menggunakan media sosial, melainkan menggunakannya tanpa strategi komunikasi. Banyak akun yang tiap hari mengunggah foto produk dan diskon, tetapi tidak menjelaskan mengapa produk itu layak dipercaya, siapa yang memproduksi, dan nilai apa yang didapat konsumen.
*Pentingnya Sustainable Marketing*
Di sinilah konsep sustainable marketing menjadi relevan. Sustainable marketing bukan hanya soal produk ramah lingkungan. Konsep ini adalah pendekatan pemasaran yang menciptakan nilai ekonomi sekaligus memberi manfaat sosial dan lingkungan jangka panjang. Produk dipasarkan tidak hanya agar laku hari ini, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan usaha dan membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Dalam pendampingan di BUMDes Sari Bumi, cara pandang itu digeser. Diskusi tidak dimulai dari “Bagaimana menjual jahe?”, tetapi dari pertanyaan “Mengapa orang harus membeli jahe dari Trenggalek?”
Pertanyaan itu mengubah arah. Pengelola mulai menyadari, mereka tidak hanya menjual jahe merah. Mereka menjual hasil kerja petani lokal, kualitas terjaga, semangat pemberdayaan desa, dan komitmen usaha berkelanjutan. Ketika narasi itu terbentuk, media sosial menjadi ruang untuk membangun hubungan emosional dengan konsumen, bukan sekadar etalase promosi.
*Jual Nilai, Bukan Hanya Produk*
Ke depan, tantangan produk lokal bukan lagi soal menghasilkan panen lebih banyak. Tantangannya adalah menciptakan diferensiasi di pasar yang kompetitif. Ketika semua orang bisa menjual jahe, yang menang bukan yang stoknya paling banyak, tetapi yang paling mampu membangun kepercayaan.
Karena itu, pemberdayaan desa tidak cukup berhenti pada pelatihan produksi atau digital marketing. Desa juga butuh pendampingan membangun identitas merek, merancang komunikasi pemasaran, memahami perilaku konsumen, hingga menyusun strategi berorientasi keberlanjutan.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis di sini. Pengabdian kepada masyarakat seharusnya menjadi ruang kolaborasi untuk membantu menciptakan nilai tambah berkelanjutan, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah.
Pengalaman di Trenggalek menunjukkan, ketika petani, BUMDes, akademisi, pemerintah, media, dan dunia usaha bekerja bersama, yang tumbuh bukan hanya penjualan produk. Tetapi juga rasa percaya diri bahwa produk desa mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Pada akhirnya, persoalan produk lokal bukan karena kualitasnya kalah. Justru sebaliknya. Yang perlu dibenahi adalah cara memperkenalkan kualitas tersebut ke dunia.
Karena hari ini, konsumen tidak hanya membeli apa yang diproduksi. Mereka membeli apa yang diyakini. Dan keyakinan itu dibangun melalui komunikasi yang jujur, bernilai, dan berkelanjutan.
Mungkin sudah saatnya berhenti bertanya mengapa produk lokal sulit naik kelas. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sudahkah kita benar-benar menjual nilainya, atau selama ini hanya sibuk menjual produknya?
Penulis adalah Dewi Deniaty Sholihah, Dosen Prodi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur
















