MALANG, GELORAJATIM.COM — Senin, (6/7/2026). Di tengah ketidakpastian ekonomi global, desa wisata hadir sebagai salah satu strategi pembangunan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus melestarikan budaya dan lingkungan. Sistem Informasi Pariwisata Nasional (Sisparnas) mencatat lebih dari 6.100 desa wisata telah terdaftar di Indonesia, sementara sektor pariwisata menyerap sekitar 25 juta tenaga kerja. Angka tersebut menunjukkan bahwa desa wisata bukan lagi sekadar destinasi rekreasi, melainkan motor penggerak ekonomi berbasis masyarakat.
Namun, keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, infrastruktur, atau banyaknya spot swafoto. Dalam perspektif pemasaran destinasi, daya saing dibangun melalui kemampuan menciptakan pengalaman wisata yang autentik (destination experience). Wisatawan masa kini tidak hanya mencari panorama yang indah, tetapi juga cerita, budaya, interaksi dengan masyarakat lokal, serta pengalaman yang berkesan. Dengan kata lain, masyarakat merupakan wajah utama sebuah destinasi.
Di sinilah perempuan memegang peranan yang sering kali luput dari perhatian. Dalam banyak program pengembangan desa wisata, perempuan masih diposisikan sebagai pelengkap, seperti pengelola konsumsi, pelaku UMKM, atau penyedia suvenir. Padahal, kontribusi mereka jauh melampaui peran tersebut. Perempuan adalah penjaga budaya, inovator produk lokal, pengelola homestay, penggerak ekonomi keluarga, sekaligus penghubung antara identitas desa dengan pengalaman wisatawan.
Pentingnya peran perempuan juga telah diakui dalam kebijakan nasional melalui Pedoman Desa Wisata Ramah Perempuan yang diterbitkan pada tahun 2024 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Kementerian Pariwisata dan Kementerian Desa. Pedoman ini menegaskan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi harus menjadi subjek utama yang memperoleh akses terhadap kepemimpinan, pengambilan keputusan, kesempatan berusaha, dan pengembangan kapasitas.
Berbagai penelitian internasional mendukung pendekatan tersebut. Studi dalam Journal of Sustainable Tourism menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pariwisata berbasis masyarakat mampu memperkuat modal sosial, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya. Sementara itu, _UN Tourism_ menegaskan bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor dengan partisipasi tenaga kerja perempuan tertinggi di dunia, meskipun perempuan masih menghadapi kesenjangan dalam akses terhadap kepemimpinan, pembiayaan, dan kepemilikan usaha. Artinya, tantangan pembangunan desa wisata saat ini bukan lagi sekadar melibatkan perempuan, tetapi memberikan ruang bagi mereka untuk menjadi pengambil keputusan.
Potensi tersebut dapat dilihat di Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang dikenal sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Selain memiliki panorama alam yang memikat, Poncokusumo kaya akan potensi agrowisata berbasis hortikultura, seperti jeruk, apel, sayuran dataran tinggi, dan berbagai produk olahan pertanian. Berbagai kelompok perempuan, mulai dari Kelompok Wanita Tani (KWT), pelaku UMKM, hingga pengelola homestay, telah berkontribusi dalam mengembangkan produk lokal dan layanan wisata.
Namun, nilai yang mereka ciptakan sesungguhnya tidak berhenti pada produk. Dalam perspektif pemasaran modern, wisatawan membeli pengalaman (experience), cerita (storytelling), dan keaslian (authenticity). Ketika wisatawan belajar mengolah hasil pertanian, menikmati kuliner khas, atau tinggal bersama masyarakat lokal, mereka memperoleh pengalaman yang membentuk kesan terhadap destinasi. Oleh karena itu, perempuan tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai pencipta nilai destinasi (destination value creator) yang membangun citra dan loyalitas wisatawan.
Sayangnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya didukung oleh pembangunan kapasitas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perempuan mendominasi pelaku usaha mikro di Indonesia, tetapi masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan akses pembiayaan, literasi digital, inovasi produk, dan perluasan pasar. Tantangan serupa juga dihadapi oleh banyak perempuan di desa wisata. Produk lokal yang berkualitas sering kali belum memiliki identitas merek, kemasan yang menarik, maupun strategi pemasaran digital yang mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, paradigma pemberdayaan perempuan perlu bergeser. Program pengembangan tidak cukup berhenti pada pelatihan kewirausahaan, tetapi juga harus memperkuat literasi digital, destination branding, destination storytelling, desain pengalaman wisata, pelayanan prima, dan kepemimpinan komunitas. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, BUMDes, Pokdarwis, dan sektor swasta perlu membangun kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas perempuan sebagai penggerak inovasi dan pemasaran destinasi.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep experience economy, yang menempatkan pengalaman sebagai sumber utama keunggulan bersaing. Alam yang indah dapat dimiliki banyak daerah, tetapi pengalaman autentik yang diciptakan masyarakat lokal sulit ditiru oleh destinasi lain. Dalam konteks ini, perempuan menjadi sumber diferensiasi yang mampu meningkatkan daya saing desa wisata secara berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, transformasi tersebut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Pada akhirnya, keberhasilan desa wisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi dari kemampuan masyarakatnya menciptakan nilai dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Sudah saatnya perempuan tidak lagi dipandang sekadar sebagai pelaku UMKM atau pendukung aktivitas wisata. Mereka adalah pencipta nilai destinasi, penggerak inovasi, penjaga budaya, sekaligus arsitek pengalaman wisata yang menentukan daya saing desa wisata Indonesia di masa depan.
Oleh: Dewi Deniaty Sholihah. Dosen Prodi Manajemen UPN Veteran Jawa Timur
















