Sidoarjo, GELORAJATIM.COM – Dua dekade berlalu sejak semburan lumpur di Kecamatan Porong terjadi pada 29 Mei 2006, namun dampaknya masih terus dirasakan warga di sekitar wilayah terdampak. Di Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, warga hingga kini masih kesulitan mendapatkan air bersih karena air sumur sudah tidak layak digunakan.
Kondisi air sumur di kawasan tersebut berubah drastis sejak tragedi lumpur terjadi. Air menjadi asin, berwarna kekuningan, serta mengeluarkan bau tidak sedap. Akibatnya, warga terpaksa membeli air bersih secara rutin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai memasak hingga mencuci.
Salah satu warga, Taufik mengatakan keluarganya sudah bertahun-tahun bergantung pada air PDAM karena sumur rumahnya tidak lagi bisa dipakai. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi sejak awal semburan lumpur muncul pada tahun 2006.
“Air sumur sudah tidak bisa lagi digunakan semenjak semburan lumpur 2006 lalu. Airnya asin, warna kuning dan berbau tidak sedap,” ujar Taufik, Jumat (29/05/2026).
Pria berusia 55 tahun itu mengaku harus membeli sekitar 10 jeriken air setiap tiga hingga empat hari sekali. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak, mencuci pakaian, hingga mencuci peralatan makan. Bahkan, kata dia, sebagian warga juga menggunakan air beli untuk mandi karena sumur benar-benar tidak layak pakai.
“Setiap tiga sampai empat hari sekali beli 10 jurigen untuk memenuhi kebutuhan. Untuk masak, cuci baju, cuci piring. Bahkan beberapa warga lainnya butuh air bersih untuk mandi,” jelasnya.
Taufik menuturkan dirinya merupakan warga asli Gempolsari yang tinggal di kawasan itu sejak tahun 1970-an. Sebelum terdampak lumpur, rumahnya berada di sisi selatan jalan. Namun karena area tersebut masuk wilayah terdampak, ia akhirnya pindah ke sisi utara dusun.
Menurutnya, hampir seluruh warga di Dusun Pologunting mengalami persoalan serupa terkait krisis air bersih. Di dusun tersebut terdapat sekitar enam RT dengan masing-masing RT dihuni kurang lebih 60 rumah.
Keluhan serupa disampaikan Suliyati. Ia mengaku warga harus mengeluarkan biaya tambahan setiap bulan hanya untuk membeli air bersih karena sumur di lingkungan mereka sudah tercemar air asin.
“Semenjak adanya lumpur itu sulit air bersih, karena sumurnya sudah asin tidak bisa digunakan. Beli air sekitar tiga sampai empat hari 10 jurigen. Satu jurigennya Rp 3 ribu, habis Rp 30 ribu,” ungkapnya.
Suliyati menyebut pengeluaran membeli air bersih bisa mencapai sekitar Rp300 ribu per bulan, terlebih air tersebut juga digunakan untuk kebutuhan berjualan. Ia juga mengatakan bantuan air bersih terakhir diterima warga pada tahun 2024 dan hingga kini belum ada lagi bantuan maupun solusi permanen dari pemerintah.
“Harapannya ya dibantu air bersih setiap satu minggu sekali. Sama dicarikan solusi agar warga ini bisa menggunakan air bersih yang layak untuk kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Tak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kondisi air asin juga membuat tanaman milik warga sulit tumbuh. Air sumur yang tercemar tidak bisa digunakan untuk menyiram tanaman karena menyebabkan tanaman mati dan tanah menjadi gersang.
Sebagai informasi, Dusun Pologunting berada tepat di dekat tanggul penahan lumpur. Selain menghadapi krisis air bersih, warga juga masih dihantui rasa khawatir apabila sewaktu-waktu tanggul penahan lumpur mengalami kerusakan atau jebol. (rif)
















